Sabtu, 28 April 2018

Tangan Ibu untuk Empat Orang Anak

Tadi pagi ketika baru saja menaiki ular baja, tiba tiba seorang ibu dengan nafas terengah - engah duduk di sebelah saya dan mengatakan, " saya duduk di sini ya. Haduh capek sekali saya mau ke Tanah Abang, ke RS Dharmais. Saya mau kontrol ".

Saya yang tepat berada di sebelahnya hanya mempersilakan. Karena kursi prioritas tersebut memang haknya. Tapi tak beberapa lama kemudian ia pun melanjutkan kisah hidupnya kepada saya. "Kemoterapi itu kayak gitu ya efeknya, rambut rontok, mual segala macam lah pokoknya. Saya sampai sekarang masih musti bolak balik rumah sakit untuk kontrol".

"Iya bu, memang seperti itu. Sendirian bu kesana?" 

"Saya punya anak empat tapi gak ada yang peduli sama saya, karena saya sakit kayak gini. Katanya mereka malu. Suami udah meninggal, jadi saya sendirian sekarang," speacleach pengen nangis dengarnya. Padahal kondisi sakit seperti ini seharusnya diberi dukungan moril dari orang orang terdekat. Tujuannya supaya kondisi psikisnya lebih baik yang nantinya akan bertambah baik juga untuk proses penyembuhan pasien. Tak berapa lama kemudian, beliau melanjutkan ceritanya.

"Untuk pengobatannya gimana bu, bayar gak?" tanya saya.
"Dulu waktu saya pertama kali kena kanker buat kemoterapi dan operasi ini sampai 24 juta sehari. Alhamdulillahnya sekarang udah nggak karena pakai BPJS dan udah lebih baik juga kondisi saya."

Usai mendengar ceritanya saya hanya dapat berkata, " semoga ibu senantiasa diberikan kesehatan,  yang sabar bu. Semoga obat obatannya gak ada yang bayar lagi. Mungkin waktu itu bayar karena untuk beli obat kemo bu yang memang agak mahal".

"Iya neng, Aamiin"

Dari beliau saya mendapatkan sebuah pelajaran berharga bahwa benar seorang ibu mampu merawat empat orang anak dengan tangannya, namun empat orang anak belum tentu mampu merawat seorang ibu. Dan dari kisah beliau saya berdoa semoga saya dan Anda  dapat merawat ibundanya di hari tua. Serta semoga empat anak ibu tersebut dibukakan mata hatinya untuk peduli dengan beliau. Aamiin.

#Retno Puspitasary
#28042018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar